Assalamualaykum warahmatillahi wabarakatuh..........

Selamat Datang di Azzam's Blog
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Januari 2012

Mutiara Kemurahan Hati di KRL

Oleh Achmad Siddik Thoha
“Jalur delapan, kereta Jurusan Bogor – Jakarta Kota siap diberangkatkan pukul 0.7.35, Jalur tujuh kereta jurusan Jakarta Kota – Bogor di stasiun Cilebut.”
Pengumuman petugas Stasiun KRL Jabodetabek (Kereta Rangkaian Listrik Jakarta Bogor Depok Tangerang dan Bekasi) membahana menyebarkan pemberitahuan rutin tanpa jenuh. Penumpang mulai berjejal memasuki kotak besi dengan tempat duduk berhadapan disisi kanan dan kirinya. Tak ada kekacauan yang menghebohkan, tak terlihat rebutan yang membuat panik, tak ditemui keributan karena antrian, semua berjalan begitu saja. Hambar rasa dan makna.

Penumpang KRL mewakili struktur sosial masyarakat kota yang serba terburu, terukur waktunya dengan materi dan sarana mengantar nasib menuju peruntungannya. Di dalam kotak besi mengular ini, sebagian masyarakat Jabodetabek sangat tergantung padanya. Biaya yang murah, jalur yang bebas macet, akses mudah menuju pusat mencari nafkah, pasar menggiurkan pedagang kecil dan pengantar tak ingkar waktu bagi mahasiswa.
Di dalam KRL pula, keprihatinan negeri ini terwakili. Pelecehan seksual, judi terselubung, aksi bebas pencopet, penumpang gelap dan pengemis yang menipu. Anak-anak balita menjadi tumbal orang tuanya sebagai pemancing uang receh ke dalam kantong plastik kecil. Penyandang cacat yang dengan manjanya menyeret tubuhnya yang tinggal setengah badan dan yang buta dengan lihai menelusup himpitan penumpang dengan kantong plastik berjejal uang receh. Anak-anak jalanan menjadi bebal dengan apa pun lalu merusak aturan keselamatan dengan naik ke atap kereta tempat kabel bertegangan 2500 volt terbentang telanjang.
Kereta mulai merengsek pelan dari Bogor. Enam orang penumpang, sepasang suami istri dan empat anak kecil. Sang ayah menggendong anak berusia kurang dua tahun, Sang ibu sibuk mengatur posisi tiga anak lainnya. Mereka harus berdiri karena kalah cepat dengan penumpang ”tetap”. Stasiun Cilebut, pemberhentian pertama KRL dari Bogor, penumpang makin berjubel. Stasiun berikutnya, Bojong gede. Kotak besi berwarna perak ini tak kuasa lagi menampung manusia di dalamnya. Beberapa tubuh mulai menyeruak di pintu dan sebagian naik ke atap. Sementara sang ayah, ibu dan empat anak ini mulai terhimpit. Sang balita mulai merengek, tiga anak lain mulai letih berdiri dan kepanasan
Spontan, suasana ini menyentak penumpang lain. Seorang kakek melepas tempat duduknya buat sang Ibu dan seorang anaknya. Tak lama berselang suasana agak gaduh.
”Hei, kamu berdiri, ini ada anak bayi, kasih dong duduk.” Seorang pria berwajah sangar berempati pada sang ayah yang berkeringat sambil menenangkan rengekan anak balitanya yang kepanasan.
Pria yang duduk dengan muka seram masih enggan, karena dia tertidur saat dibangunkan orang-orang. Akhirnya pria itu beranjak, mengakhiri mimpinya di tempat duduk.
”Minggir pak, Bapak ini mau duduk.” Beberapa orang meminta orang memberi jalan buat sang Ayah dan baita. Dua anak kecil lainnya mengikuti dan duduk berdesakan beserta ayahnya disamping penumpang lain yang duduk, semuanya wanita dan anak-anak.
Akhirnya keluarga muda itu bisa menikmati perjalanannya dengan sedikit nyaman. Tak senyaman kursi mobil pejabat memang, tapi hatinya nyaman karena orang-orang masih berempati pada yang lemah. Hatinya juga tenang karena di KRL, norma bahwa yang lemah harus dibantu dan yang kuat harus mengalah dijaga keberlangsungannya.
Hatinya terharu sebab orang-orang ’kecil’ yang diangap sangar, kasar, angker menjadi penjaga norma di KRL. Merekalah yang mau mengalah untuk yang lemah. Merekalah yang mau mengingatkan yang tidak pantas duduk untuk mengalah. Merekalah yang sangat sensitif dengan anak balita kepanasan, ibu hamil yang keletihan dan orang tua yang kepayahan. Ada kemurahan hati di antara egoisme dan perlombaan mengejar materi. Ada pengorbanan kecil yang bermakna luas dan berumur panjang. Ada perasaan malu berbuat tidak pantas.
Stasiun pasar Minggu menghentikan laju KRL. Sang Ayah lalu memegang tangan pria sangar yang memberikan tempat duduknya.
”Terima kasih, Pak.” Sang ayah melempar senyum yang sangat bermakna pada pria itu. KRL terus melaju mengangkut manusia menuju cita-citanya.
Dengan segala cap buruknya, KRL masih menyimpan mutiara. Mutiara itu bersinar di kegelapan perilaku manusia kota yang egois dan materialistik. Mutiara itu menampilkan keindahannya dikubangan pelanggar norma. Mutiara itu akan senantiasa ditemukan untuk menentramkan kaum lemah. Mutiara itu pelajaran hidup bagi orang-orang kalangan atas yang tak mampu menjaga moralitas dan integritasnya. Mutiara itu bernama kemurahan hati.
Sahabat, kadang tampilan fisik menipu kita. Orang dengan penampilan garang dan apa adanya dianggap tak patuh norma dan sedikit bermoral. Sementara, kalangan terpelajar dan berstatus sosial tinggi diagggap sebagai pengusung dan penjaga moral. Kemurahan hati lahir dari keinginan kuat untuk memberi kebahagiaan pada orang lain. Orang yang murah hati akan memberikan dirinya dan mengorbankan keinginan sendiri. Kemurahan hati tak harus ditunjukkan dengan sedekah jutaan rupiah, pentas amal yang gemerlap dan donasi yang terpampang. Kemurahan hati bisa bermula dari hal-hal kecil berbentuk senyuman, kata-kata baik atau sekedar mempersilahkan duduk pada orang yang membutuhkannya.

Senin, 19 Desember 2011

Siapakah Dan Apakah Dajjal?

Banyak orang dewasa ini yang sangat lalai memperhatikan soal Dajjal. Padahal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallammemperingatkan ummatnya mengenai yang satu ini sebagai fitnah yang paling dahsyat sepanjang zaman. Tidak ada fitnah yang melebihi fitnah Dajjal. Bahkan bisa dikatakan bahwa segenap fitnah yang pernah ada di dunia terkait dan hadir dalam rangka mengkondisikan dunia menghadapi fitnah Dajjal. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:"مَا أَهْبَطَ اللَّهُ إِلَى الأَرْضِ مُنْذُ خَلَقَ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ فِتْنَةً أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ “Allah tidak menurunkan ke muka bumi -sejak penciptaan Adam as hingga hari Kiamat- fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal.” (HR Thabrani 1672) Tidak ada fitnah yang melebihi fitnah Dajjal. Bahkan bisa dikatakan bahwa segenap fitnah yang pernah ada di dunia terkait dan hadir dalam rangka mengkondisikan dunia menghadapi fitnah Dajjal. ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ Suatu ketika ihwal Dajjal disebutkan di hadapan Rasulullahshollallahu ’alaih wa sallam kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal), dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali untuk fitnah Dajjal.” (HR Ahmad 22215) Menariknya lagi, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam telah mengisyaratkan bahwa kemunculan Dajjal untuk menebar fitnah dan kekacauan justeru bakal terjadi ketika kebanyakan manusia awam telah lalai dan tidak peduli akan Dajjal. Sedemikian rupa sehingga bila ada yang membicarakan soal Dajjal, maka mereka cenderung mentertawakannya dan menganggapnya sekedar sebagai mitos atau legenda. Demikian pula halnya dengan orang-orang pintar ketika itu. Malah para penceramah, Ustadz, da’i dan Imam di mimbar-mimbar tidak memandang perlu untuk mengangkat tema bahaya fitnah Dajjal. لَا يَخْرُجُ الدَّجَّالُ حَتَّى يَذْهَلَ النَّاسُ عَنْ ذِكْرِهِ وَحَتَّى تَتْرُكَ الْأَئِمَّةُ ذِكْرَهُ عَلَى الْمَنَابِرِ “Dajjal tidak akan muncul sehingga sekalian manusia telah lupa untuk mengingatnya dan sehingga para Imam tidak lagi menyebut-nyebutnya di atas mimbar-mimbar.” (HR Ahmad 16073) Siapakah sebenarnya Dajjal? Dan apakah ia seorang manusia anak keturunan Nabi Adam ‘alaihis-salam, ataukah ia termasuk makhluk kalangan jin atau raksasa atau apa? Saudaraku, ada sebuah hadist yang panjang dimana di dalam hadits tersebut terungkaplah bahwa Dajjal merupakan seorang lelaki dari kalangan manusia keturunan Nabi Adam ‘alaihis-salam. Namun ia merupakan makhluk yang diberikan Allah keistimewaan tidak seperti kebanyakan manusia pada umumnya. Dan di antara keistimewaan tersebut ialah bahwa ia telah hadir ke muka bumi kita ini sejak zaman Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat. Artinya, umur Dajjal sampai saat ini telah mencapai belasan abad atau sekitar seribu empat ratusan tahun. Subhaanallah... عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَّرَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ ذَاتَ لَيْلَةٍ ثُمَّ خَرَجَ فَقَالَ إِنَّهُ حَبَسَنِي حَدِيثٌ كَانَ يُحَدِّثُنِيهِ تَمِيمٌ الدَّارِيُّ عَنْ رَجُلٍ كَانَ فِي جَزِيرَةٍ مِنْ جَزَائِرِ الْبَحْرِ فَإِذَا أَنَا بِامْرَأَةٍ تَجُرُّ شَعْرَهَا قَالَ مَا أَنْتِ قَالَتْ أَنَا الْجَسَّاسَةُ اذْهَبْ إِلَى ذَلِكَ الْقَصْرِ فَأَتَيْتُهُ فَإِذَا رَجُلٌ يَجُرُّ شَعْرَهُ مُسَلْسَلٌ فِي الْأَغْلَالِ يَنْزُو فِيمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَقُلْتُ مَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الدَّجَّالُ خَرَجَ نَبِيُّ الْأُمِّيِّينَ بَعْدُ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ أَطَاعُوهُ أَمْ عَصَوْهُ قُلْتُ بَلْ أَطَاعُوهُ قَالَ ذَاكَ خَيْرٌ لَهُمْ Fatimah binti Qais berkata, "Pada suatu malam pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengakhirkan shalat isya` yang akhir, lalu beliau keluar dan bersabda: "Sesungguhnya yang menghalangiku (untuk segera keluar) adalah kisah yang diceritakan Tamim Ad Dari kepadaku dari seorang laki-laki yang berada di sebuah pulau dari gugusan pulau-pulau. Tamim berkata, "Saat itu tiba-tiba ada seorang wanita yang berambut panjang." Tamim selanjutnya bertanya, "Siapa kamu?" Ia menjawab, "Aku adalah Jasasah. Pergilah kamu ke istana itu." Tamim berkata, "Aku pun mendatanginya, ternyata di sana ada seorang laki-laki berambut panjang yang terikat dengan sebuah rantai. Tingginya menjulang antara langit dan bumi. Aku lalu bertanya, "Siapa kamu?" Ia menjawab, "Aku adalah Dajjal. Apakah telah ada seorang Nabi buta huruf yang diutus?" Aku menjawab, "Ya." Ia kembali bertanya, "Apakah orang-orang mentaatinya atau mengingkarinya?" Aku menjawab, "Orang-orang mentaatinya." Ia berkata, "Itu yang lebih baik bagi mereka." (HR Abu Dawud 3767) Tamim Ad Dari adalah nama seorang pelaut Nasrani yang hidup di zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Ia telah mengadakan suatu pelayaran dimana ia sampai ke sebuah pulau kecil dari gugusan pulau-pulau kecil. Lalu setelah ia turun di pulau itu ia berjumpa dengan Dajjal yang dalam keadaan terikat dirantai. Dan karena begitu ketemu, Dajjal langsung menanyakan perihal Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam, maka itulah sebabnya Tamim segera berangkat ke Madinah begitu meninggalkan pulau tadi. Dan setelah Nabi Muhammad mebenarkan soal fakta yang telah dilihat oleh Tamim, maka Tamim langsung mengucapkan dua kalimat Syahadat alias masuk Islam.Alhamdulillah. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam dan siksa kubur, dan fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah Masihid Dajjal." (HR Muslim 924). Ihsan Tandjung

Selasa, 20 September 2011

I’m an ACTOR, not Reactor

Dua orang ibu memasuki toko pakaian dan membeli baju seragam anaknya. Ternyata pemilik tokonya lagi bad mood sehingga tidak melayani dengan baik, malah terkesan buruk, tidak sopan dengan muka cemberut. Ibu pertama jelas jengkel menerima layanan yang buruk seperti itu. Yang mengherankan, ibu kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjualnya. Ibu pertama bertanya, “Mengapa Ibu bersikap demikian sopan pada penjual menyebalkan itu?” Lantas dijawab, “Mengapa saya harus mengizinkan dia menentukan cara saya dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas hidup kita, bukan orang lain.” “Tapi ia melayani dengan buruk sekali,” bantah Ibu pertama. “Itu masalah dia. Kalau dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dll, toh tidak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan menentukan hidup kita, padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita,” jelas Ibu kedua. Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau orang melakukan hal buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi dan sebaliknya. Kalau orang tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba jadinya sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang tersebut. Ini berarti tindakan kita dipengaruhi oleh tindakan orang lain. Sementara kita sendirilah yang bertanggung jawab atas segala akibat perbuatan kita. Kalau direnungkan, sebenarnya betapa tidak arifnya tindakan kita. Mengapa untuk berbuat baik saja, harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu? Jagalah suasana hati, jangan biarkan sikap buruk orang lain menentukan cara kita bertindak! Kitalah, yang sesungguhnya, sang penentu ! I’m an ACTOR, not Reactor. Jadi balaslah kejelekan dengan kebaikan. Allah Ta'ala berfirman, وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35) “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35) Sahabat yg mulia, Ibnu 'Abbas -radhiyallahu 'anhuma- mengatakan, "Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini." Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa." (sumber: mutiara hikmah)

Kamis, 11 Agustus 2011

Children of Heaven

Pernah nonton film Children of Heaven? itu lho film produksi negeri Iran yang sempat meraih penghargaan internasional untuk kategori best picture? Kalau sudah saya yakin anda akan sependapat dengan saya kalau film itu memang bagus, sederhana ceritanya namun sangat menyentuh. Kalau belum sempat nonton, mungkin sedikit cerita saya akan membuat anda semakin penasaran dan ingin segera menonton.

Film itu bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga miskin di Iran. Keluarga itu memiliki tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Anak pertamanya bernama Ali, berusia sekitar 8-9 tahun. Anak keduanya bernama Zahra berusia sekitar 6-7 tahun sedangkan anak ketiganya masih bayi. Cerita yang diangkat dalam film ini sangat sederhana namun sarat dengan makna dan pelajaran yang bisa kita ambil. Ali dan Zahra bersekolah pada sekolah yang sama.. pada suatu hari Ali disuruh ibunya untuk menjahitkan sepatu adiknya Zahra dan sekaligus membeli roti sepulangnya di pasar. Setelah menjahitkan sepatu adiknya, Ali pun pergi ke pasar untuk membeli roti seperti pesan ibunya. Ali pun masuk ke toko langganan orang tuanya sedangkan sepatu adiknya dia letakkan di luar toko setelah sebelumnya di bungkus plastik kresek. Namun alangkah terkejutnya Ali setelah dia keluar toko dan mendapati sepatu adiknya sudah tidak berada pada tempatnya alias hilang. Dari sinilah cerita cerita haru dan menggugah dimulai. Karena takut orang tuanya marah Ali pun meminta Zahra merahasiakan kehilangan sepatunya dan berjanji pada Zahra untuk mencarikan sepatunya yang hilang. Namun masalah baru muncul, Zahra hanya punya sepasang sepatu butut yang kini hilang, lantas dengan apa Zahra pergi ke sekolah? Ali pun ada ide, mereka bergantian memakai sepatu…ya, sepatu Ali. Toh, Zahra masuk sekolah pagi sedangkan dia siang, jadi sepulang Zahra sekolah, dia masih bisa memakai sepatunya, begitu pikir Ali. Awalnya Zahra yang polos menolak ide Ali. Dia tidak mau pakai sepatu Ali yang juga sudah butut karena itu sepatu laki-laki dan juga karena ukurannya yang kebesaran. Ali pun kembali merayu dan memohon pada adiknya agar mau bergantian memakai sepatu miliknya. Akhirnya Zahra luluh juga, jadilah mereka pulang pergi ke sekolah dengan hanya memakai sepasang sepatu. Cerita terus berlanjut dengan adegan-adegan yang terkadang menimbulkan rasa gemas, haru dan juga menggelikan. Ali pun menemukan cara untuk mengganti sepatu adiknya yang hilang, bagaimana caranya? Sebaiknya anda tonton sendiri filmnya.

Sungguh, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari cerita di film tersebut. Pelajaran tentang kesederhanaan hidup, tentang kerasnya perjuangan hidup, tentang kepolosan, ketulusan dan juga kejujuran. Memang dari keterbatasan bisa memunculkan banyak cerita, banyak ide, karena mereka miskin maka cerita menjadi berkembang dengan segala lika likunya. Akan sangat berbeda bila Ali dan Zahra berasal dari keluarga kaya, tentu sepatu yang hilang akan segera diganti dengan yang baru, selesai cerita!

Keterbatasan sejatinya tidak membuat seseorang menjadi berhenti berbuat, menjadi kehilangan harapan, ide apalagi sampai putus asa. Allah swt berfirman ; “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq:2). So, jangan putus asa dengan segala keterbatasan yang kita miliki, yakinlah bahwa dibalik keterbatasan itu sebenarnya Allah sedang menempa diri kita agar menjadi pribadi-pribadi yang kuat. Teruslah bergerak, berfikir dan berusaha, seperti Ali yang terus berusaha sambil berfikir agar bagaimana sepatu adiknya yang hilang bisa ia ganti. Namun jangan lupa, kita hanya bisa berusaha, Allah jua yang menentukan, jadi jangan lupa tawakal!

Jakarta, September 2006
Azzam

Minggu, 26 Juni 2011

Akhirnya Ku Menemukanmu

Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh

Kuberharap engkaulah
Jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku mencintaimu hingga ujung usiaku

Bila nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau disampingku
Jangan pernah letih ‘tuk mencintaiku

Akhirnya ku menemukanmu….
Song title : Akhirnya Ku Menemukanmu
By : NAFF
For my beloved wife